News Update :
Home » » PERBUATAN YANG DILARANG DALAM UU NO 11 TAHUN 2008 TENTANG ITE

PERBUATAN YANG DILARANG DALAM UU NO 11 TAHUN 2008 TENTANG ITE

Penulis : Budak Jambi on Tuesday, 9 April 2013 | 09:31


 
PERBUATAN YANG DILARANG DALAM UNDANG-UNDANG NO.11 TAHUN 2008




AKADEMI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
BINA SARANA INFORMATIKA
2013


 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Perkembangan teknologi komputer seiring dengan perkembangan teknologi di bidang teknologi telekomunikasi, pada akhirnya mengakibatkan terjadinya perpaduan antara kedua bidang teknologi tersebut (Al Wisnubroto, 1999:34). Perpaduan keduanya membentuk piranti baru yang dikenal dengan nama internet. Pada intinya, internet merupakan jaringan komputer yang terhubung satu sama lain melalui media komunikasi, seperti kabel telepon, serat optik, satelit atau gelombang frekuensi (Agus Raharjo, 2002:59).
Pada awalnya internet hanya menawarkan layanan berbasis teks saja meliputi remote access,  e-mail/messaging, maupun diskusi melalui news group (usenet). Indonesia baru bisa menikmati layanan internet komersial pada sekitar tahun 1994. Sebelumnya, beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia telah terlebih dahulu tersambung dengan jaringan internet melalui gateway yang menghubungkan universitas dengan network di luar negeri (My Personal Library Online, tt.).
Dunia internet merupakan sebuah tempat dimana kita “hidup” secara maya (virtual). Dalam dunia ini kita dapat melakukan beberapa kegiatan yang mirip dengan kegiatan di dunia nyata (real space). Kita dapat melakukan perniagaan (commerce) atau sekedar untuk sosialisasi.
Internet telah mengkonstruksi dunia maya, yang sebenarnya (dalam praktiknya) menjadi dunia tanpa batas, dunia kebebasan, yang bisa dimasuki dan dimanfaatkan oleh siapapun. Manusia yang menggunakannya disediakan ruang sebabas-bebasnya.
Pengguna internet di Indonesia sendiri dari tahun ke tahun bertambah. Mereka inilah “penduduk  maya” atau netizen Indonesia. Jumlahnya masih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah pengguna internet di negara lain yang jumlah penduduknya juga banyak. Namun jumlah yang sedikit ini memiliki keuntungan di mana kita dapat mulai menata aturan dunia cyber Indonesia dengan baik. Tidak ada alasan bahwa penataan tidak dapat dilakukan karena jumlah penduduknya sudah banyak, seperti yang kita alami di dunia nyata di Indonesia. Banyak yang mengatakan bahwa Singapura lebih mudah di tata karena jumlah penduduknya lebih sedikit.
Pemerintah Republik  Indonesia bersama dengan DPR melalui pertimbangan, pada 21 April 2008, diundangkanlah Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang lebih dikenal dengan UU ITE. Undang-undang ini dibuat untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang ditimbulkan oleh internet untuk para “penduduk maya”.
 
1.2  Batasan Masalah
Kami membatasi penulisan makalah ini meliputi perbuatan yang dilarang dalam Undang-undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Bab VII Perbuatan Yang Dilarang dalam pasal 27 sampai pasal 37 dan Bab XI Ketentuan Pidana dalam pasal 45 sampai 52.
 
1.3  Tujuan Pembuatan
Berikut tujuan pembuatan makalah ini :
a.       Menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Etika Profesi.
b.  Menambah wawasan tentang cyberlaw yang diterapkan di Indonesia pada khususnya dan Internasional pada umumnya.
 
BAB II
CYBERLAW
2.1 Pengertian

Cyberlaw adalah hukum yang digunakan di dunia cyber (dunia maya) yang umumnya diasosiasikan dengan internet. Cyberlaw merupakan aspek hukum yang ruang lingkupnya meliputi setiap aspek yang berhubungan dengan orang perorangan atau subyek hukum yang menggunakan dan memanfaatkan teknologi internet yang dimulai pada saat mulai online dan memasuki dunia cyber atau maya. Cyberlaw sendiri merupakan istilah yang berasal dari Cyberspace Law. Cyberlaw akan memainkan peranannya dalam dunia masa depan, karena nyaris tidak ada lagi segi kehidupan yang tidak tersentuh oleh keajaiban teknologi dewasa ini dimana kita perlu sebuah perangkat aturan main didalamnya (virtual world).
2.2 Ruang Lingkup  
Jonathan Rosenoer dalam Cyber Law – The Law Of Internet menyebutkan    ruang lingkup cyber law :

  • Hak Cipta (Copy Right)
  • Hak Merk (Trademark)
  • Pencemaran nama baik (Defamation)
  • Fitnah, Penistaan, Penghinaan (Hate Speech)
  • Serangan terhadap fasilitas komputer (Hacking, Viruses, Illegal Access)
  • Pengaturan sumber daya internet seperti IP-Address, domain name
  • Kenyamanan Individu (Privacy)
  • Prinsip kehati-hatian (Duty care)
9.      Tindakan kriminal biasa yang menggunakan TI sebagai alat Isu prosedural seperti yuridiksi, pembuktian, penyelidikan dan lain-lain.
10.  Kontrak / transaksi elektronik dan tanda tangan digital
11.  Perangkat Hukum Cyber Law
12.  Pornografi
13.  Pencurian melalui Internet
14.  Perlindungan Konsumen
15.  Pemanfaatan internet dalam aktivitas keseharianseperti e- commerce, e-government, e-education

2.2 Contoh Kasus dan Pasal Pasal UU ITE 

Situs Telkom yang beralamat di Telkom.co.id, sempat dijahili oleh hacker. Peristiwa ini diketahui melalui postingan di salah satu forum di Indonesia. Melalui theard tersebut, si penulis mengatakan sempat melihat situs Telkom berubah tampilanya menjadi background hitam gelap dengan tulisan klaim bahwa perubahan ini dilakukan oleh kelompok hacker bernama hmei7. Tampaknya aksi ini hanya bentuk peringantan dari si hacker bahwa situs Telkom.co.id tersebut mengalami celah dan bisa diusili oleh mereka.
Gangguan ini sendiri diakui oleh pihak Telkom. Melalui Arif Prabowo, Operation Vice President Public Relations PT. Telekomunikasi Indonesia, dijelaskan situs Telkom mengalami gangguan pada tanggal 14 April 2013 pukul 1 pagi dini hari. Gangguan pada website resmi Telkom hanya terjadi pada halaman depan (front page), tidak ke back end (server web), sehingga data, informasi dan layanan Telkom tidak terganggu. (sumber: inet.detik.com)
Dari kasus diatas kita bisa menilai disana sudah terjadi tindak pidana atau perbuatan yang di larang dalam Undang-Undang No.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik pasal 30 ayat 1 yang bunyinya,
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik milik Orang lain dengan cara apa pun”.
Sementara itu jika memang terbukti dan pelakunya tertangkap maka menurut UU ITE pasal 46 ayat 1 pelaku dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak Rp 600.000.000.
Contoh kasus lainya adalah penyebaran virus dengan sengaja. Salah satu jenis kasus cyber crime yang terjadi pada bulan Juli 2009, Twitter (salah satu jejaring social yang sedang naik pamor di masyakarat belakangan ini) kembali menjadi media infeksi modifikasi New Koobface, worm yang mampu membajak akun Twitter dan menular melalui postingannya, dan menjangkiti semua follower.
Kasus ini hanya sebagian dari sekian banyak kasus penyebaran malware di seantero jejaring social. Twitter tak kalah jadi target, pada Agustus 2009 diserang oleh penjahat cyber yang mengiklankan video erotis. Ketika pengguna mengklik, maka secara otomatis mendownload Trojan-Downloader.Win32.Banload.Sco.
Modus serangannya adalah selain menginfeksi virus, akun yang bersangkutan bahkan si pemiliknya terkena imbas. Karena si pelaku mampu mencuri nama dan password pengguna, lalu menyebarkan pesan palsu yang mampu merugikan orang lain, seperti permintaan transfer uang . Untuk penyelesaian kasus ini, Tim keamanan dari Twitter sudah membuang infeksi tersebut. Tapi perihal hukuman yang diberikan kepada penyebar virusnya belum ada kepastian hukum.
>Bagi para pelaku yang membuat dan atau menyebarluaskan virus seperti kasus di atas dapat dijerat dengan UU ITE No.11 Tahun 2008 pasal 33 yang berbunyi,
Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindakan apa pun yang berakibat terganggunya Sistem Elektronik dan/atau mengakibatkan Sistem Elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya.”
Menurut UU ITE No. 11 Tahun 2008 pasal 46 pelakunya dapat dipidana penjara 10  (sepuluh) tahun dan atau dendan paling banyak Rp 10.000.000.000 (sepuluh miliar ruiah).
Semantara itu Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimus) Polda Metro Jaya berhasil mengungkap delapan kasus tindak pidana Cyber Crime atau yang menggunakan sarana internet. Pengungkapan kasus tersebut berlangsung dari bulan Januari – Maret 2013 dengan jumlah tersangka 8 orang.
Kasus pertama adalah penipuan dengan menggunakan modus menawarkan barang eletronik murah seperti Blackberry, Iphone 5, dan IPAD melalui website www.gudangblackmarket008.com.
Pelakunya ditangkap di Medan Sumatera Utara pada 19 Maret 2013 lalu. Pelakunya adalah seorang perempuan berinsial ES 21 tahun. ES bertugas sebagai operator website tersebut. Kemudian dari laporannya petugas mengamankan laki –laki berinisal BP (30). BP berperan sebagai pengumpul dana dan penyedia rekening penampungan hasil kejahatan.
Modus penimpuannya yakni, dengan menawarkan barang melalaui website mereka. Kemudian korban yang menelpon diminta untuk mentransfer uang ke nomor rekening yang disediakan. Namun setelah uang ditransfer, pelaku tidak mengirimkan barang.
Pelaku biasa dijerat dengan UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE pasal 28 ayat (1) dan dapat dipidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan atau denda paling banyak Rp 1000.000.000 (satu miliar rupiah).
Kasus kedua yang berhasil diungkap adalah kasus penipuan melalui telepon dengan menawarkan HP, Ipad, Laptop dengan harga murah. Pelaku yang ditangkap adalah laki-laki berinisal FA (32) dan perempuan berinisal M (29). Mereka ditangkap di kota Medan, Sumatera Utara 21 Maret 2013 lalu. Modus yang digunakan pelaku adalah dengan mengaku sebagai saudara korban, kemudian menawarkan barang tersebut dengan harga murah.


Share this article :
 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2013. . . All Rights Reserved.
Design Template by Rudi Jambi | Support by creating website | Powered by Boedak Jambi