News Update :
Home » » CHARACTER BUILDING -

CHARACTER BUILDING -

Penulis : Budak Jambi on Tuesday, 6 November 2012 | 22:39


 

Bina Sarana Informatika 

 

  Aku Hidup Untuk Tetap Belajar !!! 

           Aku Belajar Untuk Dapat Hidup !!!


Diajukan untuk mendapatkan nilai ujian Akhir Semester Pada Kuliah Character Building

Di Susun Oleh :

  1. Rudi Selamat       (13120053)
  2. Marshall              (13120145)
  3. Timothy               (13120120)
  4. Herdin Zebua       (13120152)
  5. Panji                    (13120088)
  6. Ari Randapati      (13120001)


Jurusan Teknik Komputer
Akademi Manajemen informatika Dan Komputer Bina Sarana Informatika
Jakarta
2012

  Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya maka Penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan tema “Anak Jalanan(ANJAL)” yang berjudul “Dilematika Anak Jalanan”.

Pembuatan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Character Building.

 Dalam penyusunan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan kami yang masih dalam tahap pembelajaran. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini.  

Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini, khususnya kepada: 

  • Tuhan YME atas rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik

  • Kedua orang tua yang telah mendukung kegiatan kami
  • Purwidianto  selaku dosen mata kuliah Character Building
  • Rekan-rekan kelas 13.2A.07
  • Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan penyusunan makalah ini .

  

 

Jakarta, 10 November 2012

 

Kelompok 6

 


Daftar Isi

Kata Pengantar         :.........................................………………………...    i

Daftar Isi                    :..........................................…………………………   ii

    

Bab I.    Pendahuluan    ..................................................................................................   1

 

       I.1 . Latar Belakang Masalah..............................................................   1        

 

       I.2 . Batasan Masalah.....................................................................   3

 

       I.3 . Tujuan Pembuatan Makalah...................................................    3        

 

       I.4 . Manfaat Pembuatan Makalah................................................    3

 

       I.5 .Landasan Teori............................................................................   3                          

Bab II.      Pembahasan.....................................................................    4                      

Bab III.    Kesimpulan........................................................................    5

Daftar Pustaka............................................................................................................                         

BaB I

   Pendahuluan     

 

1.Latar Belakang Masalah 


Istilah “Ngemis” bermula dari santri . Dalam sebuah artikel di Tijdscrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde(1882), L. van den Berg  menjelaskan bahwa kata ini berawal dari kebiasan  sebagian santri yang meminta-minta pada hari kamis  (dalam bahasa Jawa, Kemis) , sehingga aktivitas itu disebut ngemis.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(1991 dan 2001),  berasal dari “emis” dan punya dua pengertian:
1.      “meminta-minta sedekah,”
2.      “meminta dengan merendah-rendah dan dengan penuh harapan.”
Dalam Practish Javaansch-Nederlandsch Woordenboek(1913) yang ditulis oleh P. Jansz disebut bahwa kata “ngemis” berasal dari “Kemis” yang punya dua arti, yakni “meminta-minta pada Kamis petang yang dilakukan oleh santri,” dan “meminta-minta dalam pengertian umum.” Sedang “pengemis” adalah orang yang meminta-minta.

Sepanjang sejarahnya, terutama dalam masa penjajahan,  pesantren sebagai tempat belajar para santri adalah satu-satunya lembaga pendidikan yang terjangkau oleh semua orang karena sifatnya yang gratis. Santri tidak dikenakan biaya untuk belajar di pesantren dan kiyai tidak menerima gaji untuk mengajar. Santri hanya perlu mengurus keperluan dirinya sendiri, mulai dari makanan, pakaian, peralatan belajar, bahkan terkadang tempat tinggal. Bagi santri yang datang dari kelurga yang cukup,  mungkin mereka tidak mendapatkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi bagi mereka yang dari keluarga biasa dan miskin, yang merupakan mayoritas santri pada saat itu, tidak  jarang harus bekerja untuk dapat menyambung hidup. Ada yang kerja dengan para petani, menggarap sawahnya,ataupun  membantu pedagang berjualan.

Selain itu, ada pula yang menyambung hidup dengan cara meminta sedekah dari masyarakat sekitar. Tampaknya mereka yang meminta sedekah ini lebih suka melakukannya pada hari Kamis sore/petang karena itu berarti sudah hari Jum’at dan Jum’at adalah hari yang mulia dalam Islam. Aktivitas di hari Kemis inilah yang kemudian dikenal dengan “ngemis”.
Dalam perkembangannya, kata ini tampaknya mengalamai perluasan makna, yakni untuk semua kegiatan minta-minta, oleh siapapun dan kapanpun. Kemudian, kata ini juga diserap dalam  bahasa Indonesia.  Di sisi lain, persepsi masyarakat terhadap aktivitas meminta-minta juga berubah, menjadi negatif, karena adanya sebagian orang yang menggantungkan hidupnya dari meminta-minta dan menjadikannya  sebagai profesi tetap.
Sehingga tidak heran kalau kita mendengar kata “ngemis” dan “pengemis” maka pikiran kita langsung tertuju pada gelandangan dan kaum dhuafa  yang banyak kita jumpai di jalanan. Tidak terlintas dalam pikiran kita bahwa kata ini awalnya dipakai untuk menunjukkan salah satu kebiasan sebagian santri pada zaman dulu.

  Fenomena merebaknya anak jalanan di Indonesia merupakan persoalan sosial yang kompleks. Hidup menjadi anak jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan, karena mereka berada dalam kondisi yang tidak bermasa depan jelas, dan keberadaan mereka tidak jarang menjadi “masalah” bagi banyak pihak, keluarga, masyarakat dan negara. Namun, perhatian terhadap nasib anak jalanan tampaknya belum begitu besar dan solutif. Padahal mereka adalah saudara kita. Mereka adalah amanah Allah yang harus dilindungi, dijamin hak-haknya, sehingga tumbuh-kembang menjadi manusia dewasa yang bermanfaat, beradab dan bermasa depan cerah.

 

I.2        Batasan Masalah

Pembahasan mengenai anak jalanan dan solusi untuk penanganannya, akan dibatasi pada hal-hal berikut:
1.      Apa saja faktor munculnya anak jalanan?
2.      Bagaimana perkembangan psikologis anak jalanan?
3.      Masihkah ada ruang bagi anak jalanan?
4.      Apa saja solusi yang tepat untuk problem anak jalanan?

   I.3        Tujuan Pembuatan Makalah


Maksud penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah character buildings sebagai nilai pengganti UAS.  Pada kesempatan  ini, kami melakukan observasi mengenai kehidupan pengemis.
            Sedangkan tujuan pelaksanaan observasi serta penulisan makalah ini adalah :

  • 1.     Untuk meningkatkan  wawasan, pengetahuan dan pengalaman dalam  melakukan observasi.
  • 2.     Memberikan gambaran kehidupan tentang pengemis.
  • 3.     Mengingatkan kita untuk lebih peduli terhadap sesama terutama pada mereka yang hidup                kekurangan

Kami melakukan penelitian ini dengan mengangkat tema “Anak Jalanan”, dengan judul “Pengaruh Lingkungan Terhadap Anak Jalanan”, bertujuan untuk:
1.      Dapat mengenali anak jalanan secara pendekatan.
2.      Mengetahui latar belakang munculnya anak jalanan.
3.      Mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan munulnya anak jalanan.
4.      Mencari tahu solusi yang tepat untuk menangani problem anak jalanan.

 I.4        Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian yang telah kami lakukan yaitu:
1.      Kami dapat lebih mengenali latar belakang anak-anak jalanan.
2.      Mengetahui perkembangan psikologis anak-anak jalanan.
            3.      Mendapatkan pelajaran berharga dari mereka, tentang semangat mereka bertahan hidup


I.5        Landasan Teori

          Sebagai orang tua, masyarakat dan pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak anak tersebut. Permasalahannya adalah orang yang berada di sekitarnya termasuk keluarganya seringkali tidak mampu memberikan hak-hak tersebut. Seperti misalnya pada keluarga miskin, keluarga yang pendidikan orang tua rendah, perlakuan salah pada anak, persepsi orang tua akan keberadaan anak, dan sebagainya. Pada anak jalanan, kebutuhan dan hak-hak anak tersebut tidak dapat terpenuhi dengan baik. Untuk itulah menjadi kewajiban orang tua, masyarakat dan manusia dewasa lainnya untuk mengupayakan upaya perlindungannya agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi secara optimal.




Sample Gambar:

Berbagai upaya telah dilakukan dalam merumuskan hak-hak anak. Respon ini telah menjadi komitmen dunia international dalam melihat hak-hak anak. Ini terbukti dari lahirnya konvensi internasional hak-hak anak. Indonesiapun sebagai bagian dunia telah meratifikasi konvensi tersebut. Keseriusan Indonesia melihat persoalan hak anak juga telah dibuktikan dengan lahirnya Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Tanpa terkecuali, siapapun yang termasuk dalam kategori anak Indonesia berhak mendapatkan hak-haknya sebagai anak.

Sample Gambar:

 

Bab II         

Pembahasan

 

Dalam perkembangannya, kata ngemis mengalamai perluasan  yakni untuk semua kegiatan minta-minta, oleh siapapun dan kapanpun.  Sedang “pengemis” adalah orang yang meminta-minta. Keberadaan  pengemis sekarang masih dalam posisi kontroversial. Dimana sebagian orang melarang mereka untuk melakukan akitfitasnya bahkan MUI mengharamkan adanya profesi  mengemis. Disisi lain, pengemis mendapat dukungan dari sebagian orang yang merasa berjiwa sosial.
Di berbagai daerah, terutama kota besar,  pengemis mendapat respons yang kurang baik, sehingga terbitlah beberapa Perda yang menyatakan akan memberi denda bagi siapa saja yang memberikan recehan kepada pengemis dikarenakan keberadaan pengemis dapat mengganggu keindahan kota. Selain itu, beberapa orang mengatakan bahwa mengemis berarti menghinakan dirinya sendiri. Akan tetapi, di satu sisi  para pengemis membutuhkan tangan-tangan para dermawan untuk membantu kebutuhan hidup.
            Ada dua persepsi tentang pengemis. Ada yang mengatakan, sebagian para pengemis sebenarnya mempunyai kehidupan yang mapan, dan mengemis sudah menjadi profesi. Padahal tidak semua pengemis seperti itu. Ada yang benar-benar mengemis karena memang terhimpit kesulitan hidup. Terutama bagi mereka-mereka yang mengalami cacat fisik.
Pemerintah sebenarnya sudah menyediakan tempat untuk mereka dengan adanya dinas sosial sebagai wadah yang memberikan keterampilan untuk mereka. Tapi para pengemis banyak juga yang bandel. Mereka lebih suka mengemis daripada bekerja. Sehingga ketika dilepas mereka akan kembali beraksi walau fisik mereka nampak sehat.

Berikut  ini adalah beberapa faktor yang  menyebabkan seseorang mengemis :

1.      1.Faktor Ekonomi dan pendidikan
Dikarenakan tidak mempunyai pendidikan layak sehingga tidak bisa mempunyai pekerjaan  yang
layak pula, atau dikarenakan  sangat sulitnya mendapatkan pekerjaan pada saat ini disebabkan  persaingan yang ketat sedangkan kebutuhan dasar untuk hidup seperti makanan dan pakaian harus terpenuhi  ( teori hierarchy kebutuhan  maslow).

.     2. Faktor Lingkungan 
Lingkungan tempat tinggal juga sangat berpengaruh dikarenakan sebagian besar mereka tinggal di suatu lingkungan yang profesinya mengemis.

.     3. Sifat Malas
Sifat malas ini timbul dikarenakan tidak maunya mereka berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Mereka lebih senang mengemis dikarenakan mengemis lebih mudah untuk mendapatkan uang tanpa harus berusaha .

Perilaku pengemis sendiri bermacam-macam. Ada yg membawa atau menggendong anak kecil, ada yang anggota tubuhnya luka-luka. Ada pula yg anggota tubuhnya cacat. Ada juga yg ‘mengancam’ dengan  menyatakan lebih baik mengemis (minta uang) daripada menjambret, dan masih banyak perilaku-perilaku lainnya.

Berikut profil pengemis yang  Kami Observasi di daerah Lampu Merah Senen,Jakarta Pusat

Ibu Wayna adalah seorang nenek berumur 50 tahun yang tinggal di gubuk,  Pasar Geblok dekat kincir, pinggir rel kereta. Saat ini ibu wayna tinggal bersama kedua orang cucunya Rina (5tahun) dan Fatli (3tahun) yang ditinggal mati ibunya sedang ayahnya pergi meninggalkan mereka. Kehidupan mereka yang pas-pasan memaksa ibu wayna untuk terus bekerja di usianya yang sudah tua,  apalagi ditambah dengan harus menafkahi kedua cucunya. Hal ini memang cukup berat namun demi untuk kelangsungan hidupnya  ia tetap bekerja ditambah lagi kondisi kesehetanya yang kurang baik karena sudah  2 tahun ia mengidap penyakit paru-paru.
Keseharian ibu Wayna bekerja sebagai Pengamen. Namun sebelum ngamen ibu wayna terlebih dahulu  bekerja sebagai tukang cuci  dan bantu-bantu pungutin sayur di pasaran. 

Begitulah keseharian ibu Wayne meski terkadang lelah, mau tidak mau ia harus tetap bekerja demi mempertahankan kelangsungan hidupnya dan kedua cucunya.
Bekerja dan bekerja itulah yang dilakukan ibu Wayna. Namun tetap saja semua itu belum mencukupi kebutuhan mereka, apalagi penghasilan ibu wayna yang minim. Sebut saja dalam sehari mengais rezeki ia hanya mampu mengumpulkan uang sebanyak Rp. 25.000 – 30.000 perharinya padahal dengan uang tersebut dia harus memberi nafkah kedua cucunya ditambah lagi ongkos berobat. Kondisi ini memaksa ibu wayna harus meminjam uang dari tetangga untuk ongkos berobat. fakta kehidupan ibu Wayna memang cukup ironis ditengah kondisi kesehatannya  yang kurang baik, usia yang sudah tua ia tetap harus bekerja demi kelangsungan hidup. Semangat hidup ibu wayna memang luar biasa, fakta hidupnya memang pantas di acnugi jempol. Sprit seorang nenek demi masa depan kedua cucunya.
Diluar sana masih banyak Wayna – wayna yang lain yang tidak lebih sama potret kehidupanya. Itulah ironi sebuah hidup terkadang raga harus dipaksakan bekerja hanya untuk mencukupi makan dan sekedar bertahan hidup di kolong lagit bumi ini. Ibu Wayna adalah contoh teladan hidup. Semangatnya untuk bertahan hidup pantas menjadi acuan kita untuk terus berupaya dan tidak kenal menyerah.
Apakah hikmah yang dapat dipetik dari kisah nyata ini?
Pertama adalah rasa syukur dengan kondisi hidup kita saat ini, masih banyak orang diluar sana yang lebih susah hidupnya dari pada kita, yang kedua adalah seseorang hendaknya memiliki kemampuan menerima kenyataan sebagaimana adanya. Jangan mengeluh pada segala kesulitan yang dihadapi. Segala cara harus diupayakan agar semangat hidup selalu berkobar. Ubah pola pikir agar menjadi lebih positif. Jalani kehidupan dengan kesadaran setiap saat. Kebahagiaan dalam batin akan dapat dirasakan.
Pengemis dan pengamen jalanan seringkali dianggap sebagai “sampah masyarakat”, karena baik pemerintah maupun masyarakat merasa terganggu oleh kehadiran mereka yang lalu lalang di perempatan lalu lintas, di pinggir jalan, di sekitar gedung perkantoran, pertokoan, dan banyak tempat-tempat lain yang seringkali di jadikan tempat beroperasi.
Belakangan ini pengemis, pengamen, dan gelandangan semakin banyak berkeliaran di jalanan, terutama di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, termasuk kota Bekasi. Di kota Bekasi sendiri misalnya, mereka beroperasi di terminal, stasiun, di pinggiran jalan atau lampu merah. Pemuda, remaja, pasangan suami-istri, anak-anak, dan perempuan renta semakin menyesaki ruang publik kita. Itulah yang menyebabkan sebagian besar dari kita merasa sangat terganggu dengan keberadaan mereka yang hampir ada di mana-mana dan membuat kita merasa tidak nyaman. Banyaknya kriminalitas juga seringkali dikaitkan terutama dengan anak-anak jalanan, karena mereka di beberapa kesempatan terlihat melakukan tindak-tindak kriminalitas seperti pencopetan, perampasan, melakukan tindak kekerasan, penodongan, pelecehan seksual, perkelahian, dan masih banyak kejahatan-kejahatan lain yang rentan dilakukan oleh anak-anak jalanan. Mungkin hal-hal tersebut yang akhirnya membuat pemerintah dan masyarakat menganggap mereka sebagai “sampah masyarakat”.
Sering kita melihat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) merazia Anak-anak Jalanan dan Gelandangan untuk dibawa ke Dinas Sosial dengan alasan dan dalih untuk ‘Di Bina dan Dididik’ secara baik sehingga mereka tidak kembali ke jalan lagi. Namun yang terjadi di balik dalih pembinaan sosial tersebut justru adanya tindak kekerasan, pelecehan dan pelanggaran hak-hak anak yang dialami oleh anak-anak jalanan. Kejadian tersebut jarang terungkap ke masyarakat karena anak-anak jalanan selaku korban tidak banyak yang melakukan perlawanan apalagi hingga melapor ke pihak yang berwajib karena mereka takut hal itu justru akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Pada saat kita pergi kita sering melihat banyak pengemis, pengamen, dan lain-lain.
Hal Itu merupakan salah satu akibat dari kemiskinan. Kemiskinan memang saat ini masih belum ada solusinya, tetapi tampaknya Pemerintah masih belum maksimal dalam menangani masalah kemiskinan. Dan itu bukan hanya salah Pemerintah saja tetapi kita juga harus dapat mengatasi kemiskinan tersebut, karena untuk mengubah kemiskinan harus dibutuhkan mental yang bagus. Kemiskinan memang dapat mengganggu kesejahteraan masyarakat, dan itu sangat tampak dari semakin banyaknya pengemis dan pengamen jalanan dimana-mana yang kadang mengganggu kenyamanan kita. Mungkin kemiskinan terjadi karena tidak dapat membiayai kehidupan secara langsung. Dan itulah yang terjadi sekarang ini, bahwa kemiskinan sekarang ada dimana-mana dan menyebabkan semakin bertambahnya ‘sampah masyarakat’.
Setiap anak merupakan asset yang akan meneruskan cita-cita suatu bangsa, untuk mencetak anak-anak yang kelak dapat menjadi tulang punggung bangsanya harus dipersiapkan sejak dini melalui pemenuhan kebutuhan fisik, mental maupun sosial yang sesuai dengan masa tumbuh kembangnya. Namun, sejak terjadi krisi moneter yang melanda Indonesia, bnanyak anak-anak yang terabaikan kebutuhannya. Salah satu fenomenanya adalah keberadaan anak jalanan.
Anak jalanan atau biasa disingkat anjal adalah potret kehidupan anak-anak yang kesehariannya sudah akrab di jalanan. Dan mungkin kita sudah tidak asing tentang sosok ini, karena disetiap penjuru kota, kita dapat dengan mudah menemukan mereka. Lalu apa sebenarnya yang terjadi dengan anak-anak ini? Mereka yang tergolong kecil dan masih dalam tanggung jawab orang tuanya harus berjuang meneruskan hidup sebagai anak jalanan dan terkadang mereka menjadi sasaran tindak kekerasan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tapi ada juga sebagian orang tua yang dengan alasan untuk membantu ekonomi keluarga, menganjurkan agar anak-anaknya untuk menghabiskan masa kecilnya sebagai anak jalanan. Banyak faktor mengapa mereka menjadi anak jalanan, disamping masalah ekonomi keluarga salah satunya adalah kurangnya pendidikan. Usia mereka yang relatif masih kecil dan muda seharusnya masih dalam tahap belajar dan merasakan sebuah pendidikan, tetapi mungkin karena dengan alasan tertentu, mereka malah asyik menikmati hidup sebagai anak jalanan dan tidak mementingkan sebuah pendidikan.
Bila kita melihat orang jalanan atau pengamen yang selalu yang ada di benak kita adalah anak yang kotor, kumuh, dan nakal. Memang semua itu benar, tapi ada suatu hal yang lebih berharga di balik semua itu. Anak jalanan atau pengamen mempunyai suatu keistimewaan yang tidak kita miliki. Apa keistimewaannya? Setiap hari mereka mampu melawan kekejaman kehidupan hanya untuk satu tujuan yaitu mencari uang untuk hidup sehari. Walaupun yang didapat sedikit namun mereka tetap bersyukur dan tak mengenal kata “putus asa” untuk kembali berjuang pada hari-hari selanjutnya. Namun bagaimana dengan kita?  Belum tentu kita sehebat itu.
Seperti anak jalanan yang kami riset ini. Seolah tak peduli dengan  kendaran yang lalu lalang. Dengan penuh semangat, kedua anak itu meneruskan langkah kakinya di pinggiran jalan.
Miris rasanya, melihat mereka menikmati kepedihan hidup. Tak ada yang peduli, bahkan tidak sedikit yang menganggapnya jijik. Di usia mereka yang masih relatif kecil dan muda, seharusnya mereka masih dalam tahap belajar dan  merasakan pendidikan, layaknya anak- anak yang lain. Latar belakang ekonomi di bawah garis kemiskinan mendorong mereka untuk menjadi tulang punggung keluarga mereka.
Sesekali mereka menghampiri mobil-mobil mewah yang berhenti di lampu merah. Bani mulai memetik dawai gitar, dan Sandi pun mengikutinya dengan menabuh tipung, yang sehari-hari menjadi teman setianya menjalani hidup. Di usianya yang baru menginjak 12 tahun, seharusnya mereka masih mengenyam bangku pendidikan. Tetapi tidak dengan mereka, setiap hari mereka harus bersusah payah mengais rejeki, demi menyambung hidup.
Di tengah ketiadaan pengertian untuk anak jalanan, dapat ditemui adanya pengelompokan anak jalanan berdasar hubungan mereka dengan keluarga. Pada mulanya ada dua kategori anak jalanan, yaitu, anak-anak yang turun ke jalanan dan anak-anak yang ada di jalanan. 












Sample Gambar:


BAB III

PENUTUP

Syukur Alhamdulillah atas berkat rahmat serta izin Allah SWT kami dapat menyelesaikan makalah  ini tepat pada waktunya. Dalam pengerjaan makalah ini, kami telah berusaha dengan sepenuh  hati dan semaksimal mungkin untuk memperoleh hasil yang sebaik – baiknya.
 Mudah- mudahan dengan adanya makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Amin

BAB IV

Kesimpulan


Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,
maka dapat ditarik beberapa kesimpulan :
1.Upaya mengatasi anak jalanandilaksanakan melalui beberapa pendekatan diantaranya : ketersediaan peraturan daerah dan pendekatan kebijakan mulai dari tahap identifikasi sampai penanganan masalah anak jalanan secara serius.

2.   Pola pendekatan yang dilaksanakan terhadap anak jalanan berupa pendekatan persuasif melalui mekanisme pengembangan kemampuan diri dan pendekatan preventif yakni dengan melaksanakan razia anak jalanan sebagai upaya langsung dalam mengurangi atau bahkan menghapuskan keberadaan anak jalanan.

3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan anak jalanan meliputi faktor lingkungan sosial, budaya masyarakat dan migrasi masyarakat dari suatu daerah dengan tujuan akhir  

4.      Keberadaan anak jalanan sebagai suatu permasalahan perkotaan perlu untuk mendapatkan perhatian serius dari semua pihak, terutama bagi instansi / dinas pemerintahan yang terkait dalam pengambilan kebijakan mengenai anak jalanan. Hal ini perlu dikembangkan dengan tetap mengacu pada pola kemitraan dan kerjasama antar lembaga.

5.   Rata – rata faktor penyebab seseorang mengemis dikarenakan berada dalam hidup yang kekurangan . Oleh karena itu, kita harus lebih peduli terhadap sesama yaitu mereka yang hidup kekurangan dengan cara memberikan sedekah karena itu merupakan kebajikan. Walaupun  ada  juga  seseorang  yang  menjadikan  mengemis  ini   sebagai   profesi .
6.  Terdapat pro dan kontra terhadap keberadaan pengemis, hendaknya diambil sikap positif untuk menyikapi hal ini. Akan tetapi bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan tetap lebih baik jika dibandingkan dengan pengemis.

  Saran 

Dalam masyarakat terdapat pro dan kontra mengenai keberadaan pengemis. Namun hendaknya diambil sikap positif untuk menyikapi hal ini dengan cara bersikap lebih peduli terhadap sesama dan dicari solusi agar masyarakat yang kekurangan mendapatkan kehidupan yang lebih baik sehingga mereka tidak perlu mengemis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena memberi tentu lebih baik daripada meminta. Akan tetapi dalam pelaksanaannya harus diseimbangkan antara kebutuhan duniawi dan kebutuhan spiritual. Selain itu perlu adanya motivasi dan partisipasi dari berbagai pihak sehingga dapat ditemukan solusi tepat untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Share this article :
 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2013. . . All Rights Reserved.
Design Template by Rudi Jambi | Support by creating website | Powered by Boedak Jambi